Trip Gunung Slamet via Dipajaya

Gunung yang terbentang di 5 kabupaten dan juga merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah ini memiliki segudang cerita untuk di kulik. Hal itulah yang membawa saya melangkahkan kaki ke gunung ini, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2018 saya beserta kawan-kawan lainnya memutuskan mendaki Gunuung Slamet melalui jalur Dipajaya. Sebenarnya ada beberapa jalur yang bisa digunakan oleh para pendaki untuk menuju puncak Gunung Slamet, diantaranya adalah :
1. Jalur Pendakian Via Bambangan, Purbalingga
2. Jalur Pendakian Via Dipajaya, Pemalang
3. Jalur Pendakian Via Baturraden, Banyumas
4. Jalur Pendakian Via Kaliwadas, Brebes
5. Jalur Pendakian via Guci, Tegal
6. Jalur pendakian via Dukuhliwung, Tegal
7. Jalur Pendakian via Kaligua, Bumiayu

Diantara jalur-jalur tersebut yang paling terkenal dikalangan pendaki adalah jalur Bambangan karena jalurnya yang pendek, walaupun agak terjal. Akan tetapi, kita disini tidak akan membahas tentang jalur pendakian bambangan, kita akan membahas jalur pendakian Dipajaya. Sebenarnya, jalur Pendakian Dipajaya nantinya juga akan bertemu dengan jalur Bambangan setelah melewati pos 2. Dan setelah dari persimpangan itu mendaki dari jalur Bambangan maupun Dipajaya menjadi tidak ada bedanya. Meskipun di Gunung Slamet memiliki sumber mata air (Pos 5) tetapi, saya menyarankan agar kalian membawa persediaan air yang cukup, alasannya saya akan jabarkan nanti.

Basecamp – Pos 1
 Dari Basecamp, Pendakian dimulai dengan naik melewati perkebunan penduduk dan jajaran pohon pinus. Tidak jauh setelah memasuki pohon pinus juga ada sebuah lokasi yang berisi hiasan-hiasan yang terbuat dari bambu untuk spot foto. Pendakian mulai menanjak, melewati jalan setapak yang kadang membingungkan antara jalur pendakian dan jalur perkebunan penduduk. Sehingga harus hati – hati dan mencari petunjuk jalur pendakian yang benar apabila melewati persimpangan. Biasanya dipasang di sebuah pohon yang cukup besar dan mudah ditemukan. Setelah melewati jajaran pohon pinus, selanjutnya jalur pendakian akan mulai melewati berbagai vegetasi khas gunung dengan pohon – pohon yang besar – besar. Pendakian terus saja menanjak tanpa bonus dataran yang cukup lapang. Pada Pos 1 yang berada di ketinggian 1960 mdpl juga tidak terdapat shelter.

Pos 1 – Pos 2
 Pos 1 Berada di ketinggian 1960 mdpl. Berupa tanah datar tanpa ada shelter. Akan tetapi, cukupah untuk melepas penat setelah melewati pos 1 yang cukup panjang. Selanjutnya, menuju Pos 2, trek masih tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju pos 2. Dengan pohon – pohon besar dan tinggi yang dapat melindungi kita dari sinar matahari. Pada perjalanan menuju pos 2, sering juga ditemukan kawanan burung-burung kicau yang bergelantungan diatas pohon yang tinggi menemani perjalanan dengan kicauannya.

Pos 2 – pos 3
 Pos 2 berada pada ketinggian 2080 mdpl. Pos 2 berupa tanah datar dengan luas tidak jauh berbeda dengan pos 1. Perjalanan menuju pos 3 sedikit lebih ringan, kemudian melewati titik pertemuan jalur antara Jalur Pendakian via Bambangan dengan Dipajaya pada ketinggian 2440 mdpl. Selanjutnya, jalur tetap menanjak hingga sampai di pos 3 – Cemara.

Pos 3 – Pos 4
 Pos 3(Cemara) berada pada ketinggian 2465 mdpl, berupa tanah datar yang cukup luas. Trek yang dilalui menuju pos 4 mulai banyak pohon besar dengan akar yang tidak kalah besar. Akar ini dapat membantu maupun menyulitkan pendaki. Dengan Jalur yang tetap menanjak, akar dan dahan tersebut dapat kita manfaatkan untuk berpegangan. Namun, terdapat juga akar dan dahan yang menghalangi jalur, sehingga cukup menyulitkan pendakian.

Pos 4 – Pos 5
 Pos 4 (Samarantu) berada pada ketinggian 2635 mdpl. Dikenal sebagai pos angker sehingga jarang digunakan untuk berkemah. Pos samarantu dipercaya berasal dari kata samar dan hantu, yang artinya hantu yang samar – samar atau hantu yang suka menyamar. Perjalanan menuju pos 5 tidak terlalu jauh, dengan trek banyak akar dan dahan seperti pada perjalanan menuju pos 4.

Pos 5 – Pos 6
 Pos 5 (Mata Air) berada di ketinggian 2775 mdpl. Di pos ini berupa tanah yang cukup lapang dan terdapat sumber mata air musiman sehingga sering digunakan untuk bermalam pendaki. Karena mata air di pos ini musiman, jadi ada kalanya mata air disana tidak mengeluarkan air atau kering. Tapi jangan terlalu khawatir,Di Pos 5 terdapat Shelter dan juga warung yang menyediakan berbagai makanan dan air tentu saja dengan merogoh kocek yang cukup dalam jika persediaan kalian habis disini dan mata air saat itu sedang kering. Perjalanan menuju pos 6 tidak terlalu jauh dengan vegetasi yang tidak serimbun sebelumnya.

Pos 6 - Pos 7
 Pos 6 (Samyang Rangkah), berupa tanah datar yang tidak terlalu luas. Sayangnya saya pada saat itu hanya tidak sampai di pos ini dan seterusnya karena ada kendala pada saat di pendakian. Deskripsi pos setelahnya saya dapat dari kawan-kawan saya yang melanjutkan perjalanan mencapai puncak. Setelah melewati pos 6, perjalanan mulai terbuka, kita dapat melihat binang bertebaran di malam hari dan pemandangan indah di siang hari asal tidak tertutup kabut.

Pos 7 – Pos 9
 Pos 7 (Samyang Jampang) merupakan tempat favorit bagi pendaki untuk mendirikan tenda dan berkemah. Sebab pos 7 berupa tanah yang cukup lapang dengan shelter serta cukup terbuka. Sehingga, pemandangan terlihat sangat indah. Selain itu, pos 7 juga sudah tidak jauh lagi dengan Puncak Slamet. Trek selanjutnya lebih berat, kita akan akan menuju ke lahan terbuka melewati Pos 8 (Samyang Kendit) kemudian menuju Pos 9(Pelawangan). Walaupun cukup berat, tapi pemandangannya juga sangat indah dengan Bunga Edelweiss  yang banyak ditemukan jika sedang waktunya mekar.

Pos 9 (Pelawangan) – Puncak
 Pos 9 merupakan batas vegetasi yang ditandai dengan adanya sebuah Bendera Merah Putih. Trek selanjutnya lebih berat lagi dan sangat menantang. Jalur pendakian yang dilalui cukup terjal dengan banyak batuan dan kerikil yang labil bercampur dengan pasir. Sehingga, sangat rawan terpeleset dan terjatuh jika tidak waspada dan hati – hati.





Walaupun saya hanya mendengar keindahan puncak Slamet hanya dari mulut kawan saya, saya sama sekali tidak menyesal. Karena bukankah puncak hanya bonus? Keluarga yang menunggu dirumah lah yang paling utama. Satu lagi pesan saya kepada kalian yang ingin mendaki Gunung Slamet ataupun gunung-gunung lainnya. “ Bawalah kembali sampahmu dan kurangilah intensitas sampahmu karena yang layak dibuang hanya kenangan pahit dan yang perlu ditambah juga diperbanyak adalah pengalaman hidup” jadi bijaklah ketika anda memulai langkah kaki anda di setiap perjalanan. Sampai jumpa pada cerita perjalanan selanjutnya!

Komentar